Edisi
30/11/2017
Ruli PT Mitra Tell bersama warga Tembesi Raya
BATAM,SAMJONEWS.com Ratusan titik koordinad (lokasi) keberadaan bagunan tower di Batam kelengkapan perizinan nya masih di ragukan kebenaranya.

Salah satu contoh bangunan tower yang berada di perumahan Tembesi Raya Kelurahan Kibing Kecamatan Batu Aji, menjadi perbincangan serius bagi warga sekitar, warga sudah berulang kali melakukan demo ke kantor kelurahan Kibing agar keberadaan tower di tengah pemukiman warga di pindahkan, dengan alasan semenjak keberadaan tower di tengah pemukiman warga, alat elektonik warga banyak yang rusak saat hujan datang bersamaan dengan petir.

Senin (27/11/2017) pengelola tower PT Mitra Tell melakukan kunjungan rapat/diskusi bersama warga Tembesi Raya, pada saat warga mempertanyakan perizinan pembangunan tower tersebut, pengelola tower PT.Mitra Tell kebingungan tidak dapat memperlihatkan kelengkapan perizinan nya di hadapan warga.  

Kehadiran Ruli Fadli yang mengaku sebagai Supervisor di PT.Mitra Tell di Kota Batam menemuin warga bukan untuk memindahkan tower,
“Saya datang menemuin warga atas laporan pak RW bahwa telah terjadi kerusakan barang elektronik warga  yang rusak di sambar petir sebanyak 66 KK pada tanggal 27 Agustus 2017, kami menindak lanjuti dan cek ke Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG) memang ada potensi petir pada saat itu”.

Emosi warga mulai memuncak dan warga mendesak Ruli Fadli Suvervisor PT.Mitra Tell memperlihatkan kelengkapan Izin berdirinya tower, Ruli dengan grogi dan wajah pucat mengambil dokumen dari tas, dan salah satu warga langsung mengambil dokumen tersebut dari Ruli dan di bacakan di tengah-tengah warga.

Warga yang membacakan dokumen tersebut berhenti membaca, dan kembali berteriak kepada Ruli,
“Ini bukan surat izin, ini surat rekomendasi pengajuan perizinan, bagai mananya bapak ini, kami memang masyarakat biasa, tapi kami tau mana surat izin dan mana surat rekomendasi, jangan kami di bodoh bodohi seperti ini. Ujar warga yang membacakan perizinan tersebut.

Spontan suara masyarakat yang mengikuti rapat di Vasum perumahan tersebut menjadi ribut. Bahkan beberapa masyarakat bersorak agar tower BTS itu dibongkar.
“Bongkar saja kalau tidak ada izinnya, lagi pula tidak ada untungnya tower itu sama kita,” teriak warga.

Kemudian salah satu warga bernama Leni boru Purba mengaku bahwa rumahnya tidak jauh dari tower BTS itu. Ia menceritakan bahwa dirinya telah dibodohi oleh oknum yang meminta agar dirinya mau menandatangani surat persetujuan berdirinya tower.
” Begini pak, saya di berikan uang Rp 50 ribu saat itu diminta untuk menandatangani surat persetujuan berdirinya antena mini, Tetapi saat itu mereka yang meminta tandatangan yang sebelumnya mereka bilang Cuma kamu yang belum, sementara RT/RW sudah menandatangani nya.Tapi ternyata tandatangan yang saya lihat saat itu dimanipulasi,” dan tidak berapa lama ternyata yang berdiri bukan antena mini melainkan Tower. terang Leni pada Ruli, saat rapat berlangsung.

Demikian juga seorang warga teriak, rumah saya tidak ada sepuluh meter dari berdirinya tower, saya tidak ada di datangi minta tanda tangan, berarti yang di datangin di pilih-pilih, terus siapa dong yang menandatangani itu, pasti tanda tangan nya di manipulasi. Teriak warga.

Menanggapi permintaan warga untuk membongkar tower tersebut , dan juga terkait manipulasi tandatangan. Ruli Fadli dengan dingin menanggapi merasa tidak bersalah, permasalahan itu bukanlah urusannya.
“Itu bukan kapasitas saya, karena saya datang kemari terkait ganti rugi alat-alat electronik warga. Yang rusak ” .

Sementara Arif Staf Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang yang membidangi tower yang sebelum nya bertugas sebagai bedahara penerimaan di komimfo Pemko Batam menjelaskan di ruang kerjanya saat di konfirmasi awak media ini Senin (23/10/2017) terkait keluhan warga dengan sering nya rusak elektronik yang di duga dikarenakan sambaran petir akibat keberadaan tower ditengah pemukiman warga,
Kelurahan Kibing tidak ada menyampaikan keluhan warga terhadap Dinas Cipta Karya, seingat saya, Mitra Tell belum pernah ada datang melakukan pengurusan izin mendirikan tower di Kelurahan Kibing Tembesi Raya, baik itu ke Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang maupun ke Komimfo Pemko Batam.

Biasanya kalau sudah ada aduan dari warga kami harus cek dulu, apalagi sekarang ini banyak berdiri tower baru tanpa izin, takut nya ini salah satu nya, misal nya pengelola pengelola tower ada di jalan Majapahit, izin nya ada satu, akhir – akhirnya menjadi ada tiga tower , bagi mereka itu hanya penambahan tiang, tetapi kalau dari Pemko itu seharus nya menambah objek retrebusi untuk Pemko Batam.

Izin pengelola itu di kota tidak ada lagi, sekarang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) itu di keluarkan Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu ( DPM-PTSP) untuk melengkapi IMB itu; operator provider itu harus melengkapi persetujuan titik, persetujuan titik itu sejalan dengan kerangka ruang kota dari tata ruang kota disini. Tower itu digeser dari komimfo sebelum tata ruang, karena mengingat pungsi Kerangka Ruang Kota (KRK) harus ada persetujuan titik setatus lahan kepemilikan.

Jadi itu tetap dengan perda No 6 Tahun 2009 tentang menara telekomunikasi di Kota Batam ini dan perda Nomor 9 Tahun 2011 tentang atribusi, contoh nya, tinggi bangunan 9-12 meter, itu di ukur dari titik sehingga di dapatkan rebahnya itu dan ini di dapatkan kebanyakan mau berpotensi tumbang, itu nanti diperoleh dengan status lahan, itu izin warga setelah tower provider operator telekomunikasi ini menyelesaikan siarat beberapa titik, menyelesaikan kerjasama dengan pemilik lahan, menyelesaikan izin warga, baru menyelesaikan IMB yang dikeluarkan DPM-PTSP itulah izin telekomunikasi kalau dinas Cipta Karya hanya persiaratan izin. untuk keluhan masyarakat terkait pemberitaan samjonews.com akan segera kita croscek kelokasi tower. Ungakap Arif (ngl /amjoi)
Reporter          ; Samjonews.com
Editor              ; Sdr
 
Top