Rabu 18/10/2017
BATAM,SAMJONEWS.com Kantor Dinas kependudukan Kota Batam selalu dipenuhi masyarakat setiap harinya untuk pengurusan surat pindah ke asal tujuan masing-masing, pasal nya kondisi ekonomi Batam saat ini sangat terlihat lesu.

Dengan melemah nya ekonomi Batam, masyarakat mengeluhkan betapa sulit nya mendapatkan pekerjaan tidak terkecuali bagi kaum wanita yang selama ini lebih cendrung memilih mencari pekerjaan disektor industri electronik kini sebagian besar telah beralih menjadi tenaga kerja panti pijat dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dari sudut pandang masyarakat umum, bahwa massage itu terkesan di duga tempat esek esek, alias penjualan wanita  malam, akan tetapi sebagian massage & SPA difungsikan untuk tenaga kesehatan, tentu saat ini terlihat daerah Nagoya – Jodoh pengusaha massage tambah meningkat meskipun ekonomi Batam melemah`

Dari pantauan dan investigasi tim media ini (amjoi group) diseputaran Nagoya & Jodoh, beberapa waktu yang lalu Dinas DPM-PTSP Pemko Batam dengan gencar – gencarnya melakukan razia rutin ketempat – tempat massage dengan hasil telah menemukan alat kondom pada pekerja wanita tersebut hingga pemasangan garis polis line, lalu jika benar usaha massage tersebut difungsikan sebagai tempat operandi perdagangan wanita atau prostitusi siapakah yang patut bertanggung jawab ?

Menurut nara sumber yang dapat dipercaya meminta nama nya di rahasiakan, mengatakan pada tim media ini (amjoi group) bahwa untuk mengetahui kebenaran roda usaha yang dioperasikan para pengusaha massage di wilayah Nagoya & Jodoh tidaklah sulit, intansi yang bersangkutan tinggal melihat izin nya menyalahi perda kota Batam atau tidak,  hanya saja ada ngak keseriusan pemerintah kota Batam seperti pegawai kelurahan, Camat, Sappol PP, Dinas DPM-PTSP, maupun Dinas prawisata Pemko Batam.

“Justru saya pernah mengajak dua orang pejabat Dinas Prawisata untuk memantau operasi dunia malam tempat penjual jasa wanita malam berkedok rumah makan  diwilayah Nagoya Newton & Jodoh, saat itu kami singgah disalah satu rumah makan dan kebetulan dilantai II tempat penjual jasa wanita malam, Ketika salah seorang oknum pegawai Dinas Prawisata tersebut hendak ke kamar mandi tiba – tiba dia mendengar suara panggilan dari beberapa orang wanita yang duduk diatas tangga menuju lantai II, dan memberikan penawaran untuk masuk kamar, hingga akhirnya dia pun memilih untuk balik, dan berkata ini besok akan kami laporkan untuk ditindaklanjuti “ kata nara sumber pada tim media ini.

Masih kata narasumber, untuk penertiban dunia usaha massage di kota Batam yang menyalahi izin, itu kembali kepada kesadaran perangkat RT/RW dan lurah serta camat masing – masing daerah, menurut saya tidak perlu melalui aparat penegak hukum,cukup memfungsikan Sappol PP sebagai penegak perda kota Batam, yang menjadi pertanyaan benarkah mereka bekerja sesuai fungsi nya masing – masing, tutupnya.(amjoi group)

 
Top